Itsar, mendahulukan kepentingan orang lain sekalipun diri membutuhkan

 

ITSAR yaitu Lebih mengutamakan orang lain dari pada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Berikut ini ada beberapa riwayat tentang contoh itsar kaum muslimim, para sahabat dan bagaimana itsar dalam perkara ibadah, mungkin artikel di bawah ini bisa bermanfaat :

Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Daud dari Fudlail bin Ghazwan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau datangi istri-istri beliau. Para istri beliau berkata; “Kami tidak punya apa-apa selain air“. Maka kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang banyak: “Siapakah yang mau mengajak atau menjamu orang ini?” Maka seorang laki-laki dari Anshar berkata; “Aku“. Sahabat Anshar itu pulang bersama laki-laki tadi menemui istrinya lalu berkata; “Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini“. Istrinya berkata; “Kita tidak memiliki apa-apa kecuali sepotong roti untuk anakku“. Sahabat Anshar itu berkata; “Suguhkanlah makanan kamu itu lalu matikanlah lampu dan tidurkanlah anakmu“. Ketika mereka hendak menikmati makan malam, maka istrinya menyuguhkan makanan itu lalu mematikan lampu dan menidurkan anaknya kemudian dia berdiri seakan hendak memperbaiki lampunya, lalu dimatikannya kembali. Suami istri hanya menggerak-gerakkan mulutnya (seperti mengunyah sesuatu) seolah keduanya ikut menikmati hidangan. Kemudian keduanya tidur dalam keadaan lapar karena tidak makan malam. Ketika pagi harinya, pasangan suami istri itu menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau berkata: “Malam ini Allah tertawa atau terkagum-kagum karena perbuatan kalian berdua”. Maka kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam QS. Al Haysr [59] : 9 yang artinya “Dan mereka lebih mengutamakan orang lain (Muhajirin) dari pada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” .  (HR. Bukhari no.3514-Kitab Hadist 9 Imam Lidwa Pusaka Jakarta)

Kisah Rela Berkorban untuk Saudara Seiman

Setelah perang selesai dan dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin, di medan Yarmuk (Penaklukan Romawi Timur/ Bizantium) tergeletak beberapa pejuang Islam, sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan badan penuh luka. Mereka adalah Ikrimah bin Abi Jahal, di sekujur tubuhnya tidak kurang ada 70 luka, Al Harits bin Hisyam (paman Ikrimah) dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dalam riwayat lain Suhail bin ‘Amin. Saat ketiganya sedang letih, lemah, dan kehausan serta dalam keadaan kritis, datanglah seorang yang mau memberikan air kepada salah seorang diantara mereka yang sedang kepayahan. Ketika air akan diberikan kepada Al Harits dan hendak diminumnya, dia melihat Ikrimah yang sedang kehausan dan sangat membutuhkan, maka dia berkata, “Bawa air ini kepadanya !”. Air beralih ke Ikrimah putra Abu Jahal, ketika dia hendak meneguknya, dilihatnya Ayyasy menatapnya dengan pandangan ingin minum, maka dia berkata, “Berikan ini kepadanya !”. Air beralih lagi kepada Ayyasy, belum sempat air diminum, dia sudah keburu syahid. Maka orang yang membawa air bergegas kembali kepada kedua orang yang membutuhkan air minum, akan tetapi ketika ditemui keduanya juga sudah syahid.

Dalam riwayat yang lain pula ditambahkan: “Sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut, akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula, maka Ikrimah berkata: “Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku.” Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata: “Berikanlah air minum ini kepada siapa saja, barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku.

Begitulah keadaan mereka, itsar sudah menjadi darah daging para sahabat, air tersebut tidak seorangpun di antara mereka yang dapat meminumnya, sehingga mati syahid semuanya. Semoga Allah melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada mereka bertiga.

Ali bin Abu Thalib Itsar kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di Daar An Nadwah, tokoh-tokoh Quraisy menerima dengan aklamasi pendapat Abu Marrah yang mengusulkan agar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibunuh di rumahnya sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar keputusan tersebut. Ketika beliau telah mendapatkan izin untuk hijrah ke Madinah, maka beliau bertekad bulat untuk hijrah, dan mencari orang yang mau tidur di ranjangnya yang pada malam hari untuk mengecoh orang-orang Quraisy yang ingin membunuh beliau, kemudian beliau meninggalkan rumah, dan membiarkan orang -orang Quraisy menunggu beliau bangun tidur. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkesimpulan bahwa Ali bin Abu Thalib Adalah orang yang paling cocok mengorbankan nyawanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan rencananya kepada Ali bin Abi Thalib, dan Ali bin Abu Thalib pun tanpa ragu sedikit pun memberikan nyawanya untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Ali bin Abu Thalib tidur diatas ranjang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengetahui kapan tangan-tangan jahat akan menangkapnya, menyerahkannya kepada orang-orang yang haus darah, dan mempermainkan dirinya dengan pedang-pedang mereka. Ali bin Abu Thalib tidur, dan itsar kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kehidupannya. Ia membuat percontohan tentang pengorbanan dengan nyawa dengan usia yang amat muda belia. Begitulah orang Muslim berbuat itsar atas dirinya, dan dermawan dengan nyawanya, dan dermawan dengan nyawa adalah puncak kedermawanan.

Roti yang terbatas dan tidak bisa mengenyangkan

Diriwayatkan bahwa tiga puluh orang lebih berkumpul dirumah Hasan Al-Anthaki. Mereka hanya memiliki roti yang terbatas dan tidak bisa mengenyangkan. Mereka meremukkan roti tersebut, memadamkan lampu, dan duduk bersama untuk memakannya.

Ketika tempat roti tersebut diberesi, ternyata roti tersebut masih utuh tidak berkurang sedikit pun, karena tidak seorang memakannya karena ingin itsar terhadap saudaranya, dan mereka semua tidak memakannya. Begitulah semua orang muslim yang kelaparan berbuat itsar terhadap saudara-saudaranya, dan mereka orang-orang yang melakukan itsar.

Itsar dalam Perkara Ibadah

Mendahulukan orang lain dalam perkara ibadah adalah sesuatu yang dibenci, karena masing-masing orang diperintahkan untuk mengagungkan Allah Ta’ala, mendahulukan pribadi dalam hal ibadah dan segala sesuatu yang bertujuan mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa ta’ala, lebih dianjurkan ketimbang mendahulukan orang lain.

Dalam praktik ibadah, Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum mengakhir-akhirkan (perbuatannya) kecuali Allah pun akan mengakhirkan mereka.”

Senada dengan di atas, perintah untuk menjaga diri dari siksa api neraka pun dimulai dengan menjaga diri sendiri terlebih dahulu. Kemudian, barulah disusul menjaga keluarga.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim [66]: 6)

Misalnya saja terjadi ketika akan menunaikan shalat berjama`ah di masjid. Si Fulan telah datang lebih awal dan mendapat shaf pertama, akan tetapi dia mempersilakan orang lain yang datang belakangan untuk mengisi shaf yang banyak keutamaannya itu, maka ini tercela.

Jadi kita tidak boleh untuk mendahulukan orang lain atas diri kita dalam perkara ibadah. Semoga kita dapat mengambil hikmah dalam kaidah tersebut.

Wallahu a’ lam.

Ta’lim BKP, Ahad 09 Jumadda Awwal 1433 / 1 April 2012

 

Posted on April 3, 2012, in Artikel Aqidah and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: